Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hati. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

tinta ukhti ... catatan hati seorang waniita


Catatan Hati Ukhti

Penghujung senja
 Ya Allah……
Sering aku bimbang di jalan ini
Kadang aku tidak ada teman
Untuk mencari solusi dari semua ini
Kadang aku ingin keluar saja
Dari jalan ini…..
Ya Allah…..
Hanya kepada Engkaulah aku berserah diri
Kuatkan aku dijalan ini
Engkaulah teman hidupku yang selalu ada
Ketika aku butuh…
Ketika aku kelelahan…
Ketika aku butuh teman..
ketika aku butuh solusi…
Ketika aku butuh kekuatan…
Ketika aku butuh semangat….
Engkau tidak pernah jenuh dengan keluhanku
Engkau tidak pernah jenuh dengan semua rintihanku
Engkau tidak pernah lelah memberikan apa yang aku butuhkan
Allah Maha Besar….
Tapi kenapa kadang aku selalu mengeluh
Merasa sendirian….
Pantaskah aku selalu mengeluh???
Padahal Engkau selalu ada untukku
Ya Allah…
Ampunilah hamb
amu ini
Aku hanya manusia biasa
Yang penuh khilaf dan dosa
Aku yakin Engkau selalu memberikan apa yang aku butuhkan
Walau kadang aku tidak merasakan itu
Aku yakin jalan ini adalah yang terbaik
Bagi ku…
Bagi orang tuaku…
Bagi orang-orang disekitarku…
Ya Allah Ya Rabbi Kuatkan aku di jalan ini…..
Jalan yang panjang
Jalan yang penuh duri
Kadang aku harus mengorbankan waktuku
Hartaku bahkan perasaanku…
Semoga apa yang aku hadapi sekarang ini
adalah proses pendewasaanku
Untuk menjadi kupu-kupu yang cantik
Untuk menjadi cangkir yang cantik
Untuk menjadi wanita sholehah yang tegar
Dalam menghadapi ujian kehidupan ini….
Penghujung Maret
31-03-2013, 12.50 pm

Akademi Kebidanan Ummi Khasanah Yogyakarta. AKBIDUK Jogja. Pendaftaran PMB Akbid. AKBID Kebidanan. Mau jadi Bidan Profesional dan handal kunjungi : www.akbiduk.ac.idAkbid di Jogja Akbid Ummi Khasanah Yogyakarta.
 
 
 http://rina-murnika.blogspot.co.id/2013/03/catatan-hati-ukhti.html

lembaran hati seorang bidan, kisah inspiratif

Selasa, 02 Juni 2015

catatan hati seorang bidan

Menjadi bidan adalah kebanggaanku. Saat ini sudah 18 tahun aku mengabdikan diri berjuang untuk ikut serta dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Pada tahun 1995 aku diangkat menjadi Bidan PTT di Desa Nglutung, Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung.
Desa tempat tugasku di daerah penggunungan di lereng Gunung Wilis  yang jauh dari keramaian, tak ada listrik dan sulit air. Transportasi juga sangat sulit karena jalan yang berbatu apalagi jika musim hujan sangatlah sulit untuk dilalui baik oleh kendaraan roda dua atau roda empat.
Tapi aku bersyukur meskipun dengan kondisi yang terbatas aku bisa menjalankan tugasku dengan baik. Kalau mengingat pengalaman di hari pertamaku bekerja rasanya jantung mau lepas……
Anik Purwati-SST
Ada panggilan persalinan sisa dukun 6 jam yang lalu dengan retensio plasenta dan perdarahan. Keadaan pasien yang shock dan dikerumuni banyak orang hampir satu desa yang menangis membuatku sangat panik. Segera kupasang infus dan keluarga kuminta segera mencari kendaraan karena plasenta tak bisa dikeluarkan. Tapi ternyata karena tempat tugasku yang sangat sulit, kendaraan baru datang 3 jam kemudian yaitu sebuah truck pengangkut material bangunan.
Namun aku tetap bersyukur meskipun dengan perjalanan yang sangat lama  dan melelahkan sampai kadang harus mendorong kendaraan karena jalan yang sangat sulit sampai jugalah aku di rumah sakit  tempatku merujuk.
Alhamdulillah…… ibu akhirnya selamat. Dari kejadian inilah masyarakat sangat mempercayaiku. Sehingga banyak yang membutuhkanku mulai dari ibu hamil, ibu bersalin,bayi, anak balita dan masyarakat umum. Persalinan ke Bidan juga semakin meningkat dan masyarakatpun semakin mengerti betapa pentingnya kesehatan.
Buah dari perjuangan ini akhirnya aku terima . Pada tahun 1997 aku bisa berangkat ke Jakarta mewakili Propinsi Jawa Timur untuk menjadi Bidan Teladan Nasional..         Perjalanan yang kulalui untuk menuju kesana juga sangat panjang dan harus  bersaing dengan seluruh bidan dari perwakilan tiap kabupaten dan kota sewilayah Propinsi Jawa Timur. Aku sangat senang dan bangga karena akhirnya aku dinyatakan lolos.
Kebahagiaan tidak hanya kuterima sampai disitu saja. Pada tahun 1998 aku mendapat hadiah untuk menjadi petugas haji secara gratis dan tahun 2000 aku telah diangkat menjadi CPNS. Tahun 2011 sampai sekarang aku mendapat kepercayaan untuk  menjadi Bidan Koordinator di Puskesmas Dono, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung.
Saat ini aku punya tanggung jawab penuh terhadap bidan desa di wilayah Puskesmasku untuk memberi contoh dan dukungan yang baik agar mereka menjadi bidan desa yang penuh kasih sehingga dapat dipercaya masyarakat karena lingkungan masyarakat desa berbeda jauh dengan masyarakat perkotaan. Selain itu aku selalu memberi motivasi untuk bangga menjadi seorang bidan.  Hidup bidan Indonesia………..
Penulis : Anik Purwati,SST                    

Jumat, 15 April 2016

*Kisah Wanita Sholehah Yang Buruk Rupa, Meluluhkan Hati Sang Ulil Amri (Penguasa) Hingga Jatuh Hati Padanya*

 

Seorang gubernur pada zaman Khalifah Al-Mahdi, pada suatu hari mengumpulkan sejumlah tetangganya dan menaburkan uang dinar dihadapan mereka. Semuanya saling berebutan memunguti uang itu dengan suka cita. Kecuali seorang wanita kumal, berkulit hitam dan berwajah jelek. Ia terlihat diam saja tidak bergerak, sambil memandangi para tetangganya yang sebenarnya lebih kaya dari dirinya, tetapi berbuat seolah-olah mereka orang-orang yang kekurangan harta.

Dengan keheranan sang Gubernur bertanya, “Mengapa engkau tidak ikut memunguti uang dinar itu seperti tetangga engkau?”

Janda bermuka buruk itu menjawab, “Sebab yang mereka cari uang dinar sebagai bekal dunia. Sedangkan yang saya butuhkan bukan dinar melainkan bekal akhirat.”

“Maksud engkau?” tanya sang Gubernur mulai tertarik akan kepribadian perempuan itu.”

Maksud saya, uang dunia sudah cukup. Yang masih saya perlukan adalah bekal akhirat, yaitu shalat, puasa dan zikir. Sebab perjalanan di dunia amat pendek dibanding dengan pengembaraan di akhirat yang panjang dan kekal.”

Dengan jawaban seperti itu, sang Gubernur merasa telah disindir tajam. Ia insaf, dirinya selama ini hanya sibuk mengumpulkan harta benda dan melalaikan kewajiban agamanya. Padahal kekayaannya melimpah ruah, tak kan habis dimakan keluarganya sampai tujuh keturunan. Sedangkan umurnya sudah di atas setengah abad, dan Malaikat Izrail sudah mengintainya.

Akhirnya sang Gubernur jatuh cinta kepada perempuan lusuh yang berparas hanya lebih bagus sedikit dari yang paling buruk itu. Kabar itu tersebar ke segenap pelosok negeri. Orang-orang besar tak habis pikir, bagaimana seorang gubernur bisa menaruh hati kepada perempuan jelata bertampang jelek itu.

Maka pada suatu kesempatan, diundanglah mereka oleh Gubernur dalam sebuah pesta mewah. Juga para tetangga, termasuk wanita yang membuat heboh tadi. Kepada mereka diberikan gelas crystal yang bertahtakan permata, berisi cairan anggur segar. Gubernur lantas memerintah agar mereka membanting gelas masing-masing. Semuanya bingung dan tidak ada yang mau menuruti perintah itu. Namun, tiba-tiba terdengar bunyi berdenting, ternyata ada orang yang dianggap gila yang melaksanakan perintah itu. Itulah si perempuan berwajah buruk. Di kakinya pecahan gelas berhamburan sampai semua orang tampak terkejut dan keheranan.Gubernur lalu bertanya, “Mengapa kau banting gelas itu?”

Tanpa takut wanita itu menjawab, “Ada beberapa sebab. Pertama, dengan memecahkan gelas ini berarti berkurang kekayaan Tuan. Tetapi, menurut saya hal itu lebih baik daripada wibawa Tuan berkurang lantaran perintah Tuan tidak dipatuhi.”

Gubernur terkesima. Para tamunya juga kagum akan jawaban yang masuk akal itu.

Sebab lainnya?” tanya Gubernur.Wanita itu menjawab, “Kedua, saya hanya menaati perintah Allah. Sebab di dalam Alquran, Allah memerintahkan agar kita mematuhi Allah, Utusan-Nya, dan para penguasa. Sedangkan Tuan adalah penguasa, atau ulil amri, maka dengan segala resikonya saya laksanakan perintah Tuan.”

Gubernur kian takjub. Demikian pula para tamu undangannya. “Masih ada sebab lain?”

Perempuan itu mengangguk dan berkata, “Ketiga, dengan saya memecahkan gelas itu, orang-orang akan menganggap saya gila. Namun, hal itu lebih baik buat saya. Biarlah saya dicap gila daripada tidak melakukan perintah Gubernurnya, yang berarti saya sudah berbuat durhaka. Tuduhan saya gila, akan saya terima dengan lapang dada daripada saya dituduh durhaka kepada penguasa saya. Itu lebih berat buat saya.”Maka ketika kemudian Gubernur yang kematian istrinya itu melamar lalu menikahi perempuan bertampang jelek dan hitam legam itu, semua yang mendengar bahkan berbalik sangat gembira karena Gubernur memperoleh jodoh seorang wanita yang tidak saja taat kepada suami, tetapi juga taat kepada gubernurnya, kepada Nabinya, dan kepada Tuhannya.

  Akademi Kebidanan Ummi Khasanah Yogyakarta. AKBIDUK Jogja. Pendaftaran PMB Akbid. AKBID Kebidanan. Mau jadi Bidan Profesional dan handal kunjungi : www.akbiduk.ac.id
Akbid di Jogja Akbid Ummi Khasanah Yogyakarta.

sumber :  https://www.facebook.com/notes/jilbab-kerudung-rumah-madani/kisah-wanita-sholehah-yang-buruk-rupa-meluluhkan-hati-sang-ulil-amri-penguasa-hi/803705426346001/